Bimtek Peningkatan Kompetensi Sosial Emosi
SMAN 1 Kec. Guguak terus memperkuat kualitas pendidikan dengan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kompetensi Sosial Emosi bagi Guru dan Tenaga Kependidikan, di ruang majelis guru, diikuti oleh seluruh guru sebagai upaya membangun pendidik yang humanis dan berkarakter. Selasa (06/01).
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala SMAN 1 Kec. Guguak, Lisa Lazwardi, M.Pd. Dalam sambutan, ia menegaskan pentingnya peran guru dan tenaga kependidikan dalam mendampingi murid, terutama pada aspek sosial dan emosional. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk terus menumbuhkan semangat serta menjadi teladan positif agar mampu memberikan pendampingan yang tepat terhadap kondisi psikologis murid.
Di sesi awal, guru mendapatkan pemahaman mengenai konsep pendidikan ramah anak, yakni pendidikan yang berlandaskan nilai kemanusiaan (humanis). Pemerintah telah mengimbau seluruh satuan pendidikan di Indonesia untuk menerapkan sekolah ramah anak. Dalam pelaksanaannya, diperlukan kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah guna mendukung proses pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Bimtek ini menghadirkan Halfizh A., S.Psi., M.Psi., Psikolog Klinis, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa minat belajar murid saat ini cenderung menurun, salah satunya disebabkan oleh proses belajar yang dijalani secara terpaksa. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya motivasi belajar. Ia juga menjelaskan bahwa rentang IQ normal berada pada angka 91–110. Murid dengan kemampuan di bawah rata-rata membutuhkan pendampingan khusus agar tetap fokus dan bersemangat dalam belajar. Pendekatan inklusif menjadi solusi dengan menyesuaikan pendampingan sesuai kemampuan masing-masing murid.
Keberhasilan murid, lanjutnya, tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari aspek nonakademik, seperti perilaku, keterampilan, serta kepedulian terhadap sesama. Hubungan yang harmonis antara guru dan murid memiliki peran penting dalam mendukung proses pembelajaran dan pembentukan karakter. Guru diharapkan bersikap tegas dalam mendidik, namun tidak bersikap kasar atau menggunakan pendekatan yang bersifat kekerasan. “Mari kita bersama-sama memuliakan anak dan menanamkan adab sejak dini,” ajaknya.
Ia juga menekankan bahwa tugas utama guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai teladan dan sosok yang mampu menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan. Guru dan tenaga kependidikan dituntut untuk kreatif dan inovatif, serta bersikap humanis dalam menasihati murid tanpa menyudutkan atau mempermalukan mereka di depan umum. Keteladanan harus dimulai dari guru sebelum ditanamkan kepada murid, termasuk dalam pembentukan karakter religius melalui pembiasaan ibadah sebagai landasan kehidupan.
Untuk menjaga suasana pelatihan tetap kondusif dan menyenangkan, kegiatan diselingi dengan sesi ice breaking yang bertujuan melatih fokus serta meregangkan otot setelah duduk dalam waktu lama. Narasumber juga mengingatkan pentingnya kepekaan guru dalam membaca kondisi kelas. Ketika murid terlihat gaduh, guru disarankan memberi ruang aktivitas sejenak agar murid kembali siap belajar, bukan langsung memberikan teguran keras.
“Mengertilah, kita tengah berhadapan dengan anak-anak yang benar-benar sedang membutuhkan kita, sekalipun mereka terlihat tidak membutuhkan anda. Mereka sedang belajar kepada kita pendengaran, penglihatan, semuanya sedang tertuju kepada kita. Mereka tidak hanya belajar dari apa yang tersurat, tetapi juga dari apa yang tersirat. Menjadikan guru sebagai pendidik yang bukan sekedar tugas fungsional namun juga sebagai tugas emosional.” Ucap Halfizh di akhir kegiatannya. (Jurnalis PPID SMAN 1 Kec. Guguak, Rahmah Renova)

-100x100.jpeg)
-100x100.jpeg)



-100x100.png)